Engkau berfikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal di dalam dirimu tersimpan kekuatan tak terbatas (Ali bin Abi Thalib)

Senin, 25 Juli 2011

UKURAN SEBUAH MASALAH

Sore tadi kumulai dengan sebuah senyum semangat untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan kampus putri tempatku mengabdikan diri saat ini. Dengan niat yg insya Allah baik, kusiapkan kedua buah hatiku untuk ikut bersamaku ke kampus putri. Sebuah terobosan baru telah kususun. Sebuah sistem kepembinaan yang lebih tertata dan terprogram dengan baik, sehingga seluruh program pesantren dapat berjalan lebih baik.
Langkah kaki ini terasa enteng, walau sebuah ransel besar tersandang di pundak, meski kedua buah hatiku tak berhenti membuatku mengoceh dalam perjalanan karena tingkah aktif mereka. B \erbagai rencana telah tergambar dalam otak, step by stepnya sudah tersusun rapi dalam perencanaan jangka pendek, membuat asaku makin kuat tuk menjadi lebih baik bersama pesantrenku tercinta.
Pintu gerbang yang tinggi n megah menyambut semangatku, taman yang tertata rapi, begitupun air mancur Pesantren putri dengan gemericiknya ikut bernyanyi menyaksikan kedatanganku, ahhh...ditambah pohon-pohon nan asri yang berjajar rapi di sisi mal'ab(lapangan olahraga) semakin menyejukkan fikiranku. Tapi ada yang mengusik semua kebahagiaan sore itu. Sebahagian besar santri asyik berbincang-bincang ditengah sampah yang berserakan sejauh mata memandang, hanya beberapa santri yang tengah menyirami bunga-bunga yang telah sekarat antara hidup dan mati. Kucari petugas kebersihan yang bertugas, semua santri hanya menggeleng tanda tidak tahu atau tidak mau tahu. Kususuri tiap kamar, berharap bagian kebersihan sedang mengontrol ditiap kamar, tapi aku makin kecewa.Aku merasa bekerja sendiri, tak ada teamwork yang selama ini telah dibentuk. Dengan nata yang mulai berkaca-kaca karena batin yang terus berkecamuk, kukerahkan santri secara langsung, walau dalam protapnya, pembina juniorlah yang melaksanakan pekerjaan tersebut.
Sahut-sahut terdengar dari kejahuan suara beberapa orang tengah berbincang-bincang diselingi gelak tawa yang membahana. Aku dapat mengenali dengan jelas siapa mereka. Merekalah kumpulan pembina junior yang tengah asyik dengan dunia meeka sendiri tanpa sadar akan tanggung jawab mereka sebagai orang-orang yang diberi amanah untuk membimbing santri.
Ah...mereka dengan sengaja melalaikan semua amanah itu dengan alasan mereka tak diberi tanggung jawab, atau tanggung jawab mereka diambil alih oleh pembina senior. Mereka makin menjaga jarak dan memasang jurus masa bodoh dengan semua kejadian yang menimpa santri, baik itu yang kesurupan massal, yang pingsan, asma sampai yang terhukum. Merka seakan tenggelam dalam kasur mereka dalam asrama atau malah menghilang tanpa jejak tanpa permisi meninggalkan asrama.
Runtuh semua pertahananku, airmata yang tadinya hanya menganak sungai, kini bagai air bah yang tak sanggup lagi terbandung.  kuterduduk dibawah rimbunan pohon menangisi diri sejadi-jadinya, entah apa yang ada di benak santri yang melihatku, tapi hanya itu yang sanggup kulakukan untuk melepaskan sedikit kekecewaan yang menghimpit dada.
Kuputuskan untuk pulang saat itu juga, di kala senja tengah memerah, di saat azan magrib menggema sambil mengetik sebuah sms pada direktur bahwa aku mau resign.
kutenangkan diriku dalam shalat, berharap Allah menghapus kesedihan yang memenuhi jiwaku. Rasanya tak ada gunanya keberadaanku di kampus kalau juniorku tak mau bekerja sama denganku, yang ada hanya lelah fiisk dan pikiran. Toh mereka maunya hanya menurut pada satu pembina yang sebelumnya bebas tugas karena kepergiannya berumrah. Ah..sudahlah, rutinitas kampus kan berjalan seperti semula tanpa kehadiranku , pikirku saat itu. sampai sebuah telepon masuk di hpku, ternyata sang direktur.Dia hanya menanyakan sebab sms tadi terkirim ke hpnya. Beliau tidak banyak berkomentar, hanya menyarankanku tuk menaklukkan hati para pembina junior itu, walau jiwaku berbisik bahwa hatiku telah KO duluan sebelum menaklukkan hati mereka.
Tak lama berselang, sebuah sms dari sang direktur kembali manyapa hapku, isinya lumayan menghibur
"Garam akan terasa asin di segelas air, tetapi akan terasa segar di sebuah telaga. Garam ibarat masalah, jika wadahnya kecil, ia akan teraasa menyesakkan, tap bila wadah kita luas maka masalah akan membuat hidup kita menyenangkan"
walau aku tidak seratus persen mengamini nasehatnya, tapi setidaknya aku dapat mentafakkuri bahwa ukuran sebuah masalah ditentukan oleh manusia itu sendiri, besar-kecilnya, berat-ringannya,banyak-sedikitnya tetap kembali pada orang yang menhadapi masalah itu. Yang dibutuhkan hanya kelapangan dada untuk menampung masalah yang menghampiri dan berusaha menyelesaikan semuanya secara bijaksana.

wallahu a'lam

2 komentar:

  1. Hmm ... ada yang bilang mirip seperti itu pada saya: "Jadilah seperti lautan, mau dituangkan/celupkan apapun di dalamnya, ia tak berubah" ... Yap, kita sendiri yang menentukan besar-kecilnya masalah ...

    Mugniar (Bundanya Fiqthiya)
    http://mugniarm.blogspot.com

    BalasHapus